Friday, May 1, 2015

Syeikh Abdurrauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri al-Singkili Aceh (1615 – 1693.M)

Abdurrauf, lahir di Aceh tahun , 1024 H/1615 M. Nama aslinya adalah Aminuddin Abdurrauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri al-Singkili. Ia lahir di sebuah desa kecil di pantai barat pulau Sumatera. Ayahnya berasal dari keluarga ulama. Ayahnya Syeikh Ali Fasnsuri adalah seseorang Arab yang mengawini seorang wanita setempat dari Fansur (Barus) dan bertempat tinggal di Singkel. Ali Hasyimi (1984) mengemukakan merujuk kitab yang memuat silsilah dari riwayat hiup syeikh Adurruf Singkel bahwa ia adalah anak Syeikh Ali Fansuri. Abdurrauf lahir pada tahun 1592 sebagai anak pertama dari pada syeikh Ali Fansuri. Abdurrauf lahir sesudah tiga tahun sultan Sayyid al-Mukammil menaiki unta.


Abdurrauf berangkat ke timur tengah untuk belajar agama. Ia cukup lama belajar di Arab yaitu selama 19 tahun, ia mengunjungi pusat-pusat pendidikan dan pengajaran Islam di sepanjang perjalanan haji antara Yaman dan mekkah. Kemudian ia bermukim di mekkah untuk memperdalam ajaran agama seperti al-Qur’an dan hadits, fiqih dan tafsir dan secara khusus mempelajari tasawuf. Bersama dengan kawannya Syeikh Abdullah Arief yang lebih dikenal dengan Syeikh Madinah atau disebut juga dengan Tuanku Madinah di Tapakis. Pariman. Ia belajar tariqat pada Syeikh Ahmad Qushasi (1583-1661) dan Syeikh Ibrahim al-Qur’ani,. Pengganti Qushasi. Abdurrauf menceritakan tentang riwayat hidupnya dan guru-gurunya di akhir bukunya Umdatul Muhtajin. Dijelaskan pula bahwa dia sangat memuji gurunya di akhir Ahmad Qushasi, sebagai pembimbing spritual dan guru di jalan Allah. Dia kemudian memperoleh ijazah dari guru tariqat tersebut. Sehingga berhak untuk mengajarkan tariqat Syattariyah kepada murid-muridnya. Syattariyah adalah sebuah aliran tariqat yang muncul pertama kali di India pada abad 15, nama tariqat ini dinisabkan pada tokoh pertama yang mempupolerkannya yaitu Abdullah asy-Syathar. Tariqat ini bertujuan untuk membangkitkan kesadaran terhadap Allah swt dalam batin manusia.hal itu bisa dicapai melalui pengalaman beberapa macam zikir.


Tariqat Syattariyah ini sangat besar pengaruhnya di dunia islam termasuk di Indonesia. Menurut Ann Marie Schimmel yang sangat otoritatif dalam mengkaji sufisme, setelah membaca penafsiran sufistik Abdurrauf dalam karyanya Daqaiq al-Huruf. Schimmel menyimpulkan, sebagaimana diutarakan Azyumardi Azra (Tempo.16/1/2000) bahwa Abdurrauf sangat sophisticated dalam menjelaskan dan menginterprestasikan wihdatul wujud dalam kerangka syariah. Barangkali ada benarnya bila kemudian paham tasawuf Syattariyah disebut dengan wihdatus suhul, melihat konsepnya.


Abdurrauf Singkel kembali ke Aceh sekitar tahun 1662M. Dan setibanya di kampungnya segera mengajarkan dan mengembangkan Tariqat Syattariyah di Indonesia. Abdurrauf dinilai sebagai tokoh yang cukup berperan dalam mewarnai sejarah tasawuf islam di indonesia pada abad ke-17. Pada sekitar tahun 1643. Saat kesultanan Aceh dipimpin oleh Sultanah (ratu) Safiatudin Tajul Alam (1641-1675). Karena kedudukannya itu ia sering disebut dengan Syeikh Kuala di Aceh. Saat menjadi mufti tersebut. Dengan dukungan dari pihak kerajaan, ia berhasil mengahapus ajaran Salik Buta, tariqat yang sudah ada sebelumnya di masyarakat Aceh.


Beliau adalah ulama besar dan tokoh tasawuf dari Aceh yang pertama kali mengembangkan paham tariqat Syattariyah di Indonesia. Banyak sekali murid-muridnya m tempat persinggahan para jamaah haji yang hendak berangkat ke mekkah. Ketika singgah di Aceh inilah tidak sedikit jamaah haji yang kemudian belajar agama dan tasawuf. Di antara murid-muridnya yang menjadi ulama terkenak adalah Syeikh Burhanuddin Ulakan.


Ajarannya juga berkembang di pulau jawa. Simuh (1960:9) mencatat bahwa penyebaran Tariqat Syattariyah di Jawa dikembangkan oleh muridnya Abdul muhyi (Pamijahan), yang dikeramatkan di daerah Priangan. Dari daerah ini Kesultanan Cirebon pula kemudian lahir karya-karya sastra dalam bentuk serat suluk yang isinya mengandung ajaran tasawuf wujudiyah atau martabat tujuh. Dari pengaruh Cirebon inilah di kemudian hari pujangga-pujangga Surakarta mengubah karya Serat Suluk yang kaya ajaran etika dan tasawuf.


Pandangan dan Perjuangannya


Suasana kehidupan tariqat di tanah air pernah mengalami polemik yang tajam karenanya adanya intervensi terhadap paham tariqat yang dianggap sesat, seperti yang terjadi di Aceh dan Sumatera Barat. Mereka saling menyalahkan, bahkan sudah sampai kafir mengkafirkan hal ini pernah menimpa tariqat wujudiyah yang dihukum mati, kitab-kitab dan tulisan dar Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani dibakar, di masa Nuruddin ar-Raniri yang menjadi mufti kerajaan Aceh pada masa sultan Iskandar Muda Tsani.


Saat itu Abdurrauf masih berada di Mekkah ia baru pulang ketika konflik sudah mereda di masa pemerintahan Sultanah Tajul Alam (1051/1641 H-1086/1675 M). Dan kemudian ia diberi kepercayaan oleh ratu untuk menjadi Qadhi Malik al-Adil atau mufti kerajaan Aceh, yang bertangung jawab atas masalah-masalah keagamaan di kerajaan Darussalam Aceh . jabatan mufti yang dipegang Abdurrauf memberikan peluang baginya untuk mengekspresikan pemikiran dan paham keagamaannya. Peluang menyampaikan fikiran-fikiran itu ia mulai dari tulisan. Antara lain kitabnya yang dikenal luas sampai sekarang kitab mulai dari fiqih sampai tasawuf. Seperti yang akan kita lihat nanti.


Kewibawaan Abdurrauf menjadi mufti juga menjadi modal baginya untuk meredam konflik paham keagamaan antara paham wujudiyah dan paham syuhudiyah. Pendekatan yang digunakan Abdurrauf adalah mendamaikan antara paham-paham yang bertentangan itu, hal itu sejalan dengan kecenderungan jaringan ulama abad 17 dan 18 yang berupaya saling mendekatkan antara ulama yang berorientasi pada syariat dan para sufi. Kenyataan konflik antara dua kelompok cendikiawan muslim ini sudah berkurang dan saling mendekat sebagaimana yang diajarkan al-Qushasi dan Al-Ghazali. Diskurus rekonsilisasi syariah dan tasawuf yang dikembangkan oleh Abdurrauf Singkel dapat diamati dari tiga pilar pemikirannya dalam bidang tasawuf, yang kemudian secara signifikan menjadi tema utama pula dalam pemikiran murid-murid di belakangnya, termasuk didalamnya Syeikh Burhanuddin Ulakan. Ketiga pokok pikiran tersebut adalah Ketuhanan dan hubungan dengan alam. Insan dan Jalan Menuju Tuhan (Tariqat).


Pokok Pemikiran Tasawuf Syattariyah


Syattariyah sebagai sebuah aliran tasawuf, dalam perkembangan di Indonesia menghadapi dua kutub aliran tasawuf yang berbeda sebagai warisan dari para ulama terdahulu Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani dan Nuruddin ar-Raniri. Dalam kondisi semacam itu, aliran tasawuf Syattariyah menjadi penyejuk bagi perbedaan tajam antara aliran wujudiyah dan alira syuhudiyah.


Untuk mengetahui pemikiran tasawufnya dapat dipelajari dari pokok pemikiran tasawuf Syattariyah yang ditemukan melalui buku-bukunya dan buku-buku yang ditulis oleh murid-muridnya. Pokok-pokok fikiran tersebut Pertama Ketuhanan dan hubungannya dengan alam. Dalam memahami hakekat keberadaan Tuhan, Abdurrauf, menganut paham bahwa satu-satunya wujud hakiki adalah Allah. Alam ciptaanya adalah wujud bayangannya yakni bayangan dari wujud hakiki. Walaupun wujud hakiki (Tuhan) berbeda dengan wujud bayangannya (alam) namun terdapat kesamaan antara kedua wujud tersebut. Tuhan melakukan tajalli (penampakan diri dalam bentuk alam). Sifat-sifat tuhan secara tidak langsung tampak pada manusia.


Abdurrauf Singkel dikenal oleh masyarakat luas di Sumatera. Ia mengungkapkan wujud yang hakiki hanya Allah, sedangkan alam ciptaannya adalah bukti keberadaan Tuhan dan Kekuasaanya. Pada alam yang tampak (realitas) ini tuhan menampakkan dirinya (Tajalli) secara tidak langsung pada manusia, sifat-sifat Tuhan secara langsung menampakkan diri begitu sempurna, dan relatif yang paling sempurna (Insan kamil). Sedangkan bagaimana hubungan Tuhan dengan alam adalah ketransendenannya Abdurrauf menjelaskan sebelum Tuhan menciptakan alam raya (al-alam). Dia selalu memikirkan (bertaakul) tentang dirinya. Yang mengakibatkan pencitraan Nur Muhammad dari Nur Muhammad itu Tuhan menciptakan pola-pola dasar (al-Ayan ats-Tsabitah), yaitu potensi dari semua alam raya, yang menjadi sumber menjadi sumber pola dasar luar (al-ayan kharijiyyah) yaitu ciptaan dalam bentuk kongkritnya.


Abdurrauf yang sering pula disebut dengan al-Singkili menyimpulkan meskipun al-Ayan Kharijiyyah merupakan wujud mutlak, mereka adalah berbeda dari Tuhan itu sendiri. Hubungan keduanya seperti tangan dan bayangan. Meskipun tangan tidak dapat dipisahkan dari bayangannya, yang terakhir itu tidak sama dengan yang pertama. Sedangkan untuk mendapatkan hubungan langsung dengan Tuhan, oreng mesti melalui Kasyf. Akal manusia tidak mungkin bisa memahami Tuhan. Maka Kasyf adalah satu-satunya pintu yang bisa dicapai dengan memurnikan Tauhid melalui pengajian tariqat Syattariyah dan mengamalkan dzikir serta ibadah dengan kafiyat sendiri (Azyumardi Azra 1995:206).


Pemikiran di atas memberikan kesimpulan pada kita bahwa Abdurrauf adalah tokoh penghubung antara paham wujudiyah mulhid, yang diwakili oleh Hamzah Fansuri dn Syamsuddin as-Sumatrani, dan paham syuhudiyah yang diwakili oleh Nuruddin ar-Raniri. Duski Samad (2001:46) menyebutnya merupakan sintesa dari mistiko-filosofis Ibnu Arabi dan al-Ghazali yang memusatkan perhatian pada upaya pencapaian ma’rifah mengenai Allah secara langsung tanpa hijab melalui pensucian hati dan penghayatan makna ibadah.


Kedua. Insan Kamil adalah sosok manusia ideal. Dalam wacana tasawuf konsep insan kamil lebih mengacu kepada hakekat makhluq dan hubungannya dengan Khaliq (Tuhannya). Dalam literatur tasawuf hakikat manusia dan hubungannya dengan Tuhan (Insan Kamil) dapat dikelompokkan kepada dua bentuk pemikiran (1) Konsep yang diperkenalkan oleh al-Hallaj. Menurutnya manusia (Adam) adalah penampakan cinta Tuhan yang azali kepada esensiNya yang tak mungkin disifatkan itu. Oleh karenannya, Adam diciptakan Tuhan dalam bentuk rupaNya, mencerminkan segala sifat dan nama-namaNya, sehingga “Ia adalah Dia” dan konsep seperti inilah yang dikemas oleh Abdul Karim al-Jilli (w 826/1422) dalam sebuah karyanya yang berjudul al-insan al-kamil al-awail wal-akhir. Al-Jilli melukiskan “Manusia adalah kutub yang diedari oleh seluruh alam wujud ini sampai akhirnya. Pada setiap zaman ini mempunyai nama yang sesuai dengan pakaiannya (Manusia yang merupn kejiwaan. Bagi akan perwujudannya pada zaman itu, itulah yang lahir dalam rupa-rupa para Nabi, dari Nabi Adam as sampai nabi Muhammad SAW dan para qutub (wali tertinggi pada satu zaman) yang datang sesudah mereka. (2) Konsep Insan Kamil yang dikembangkan oleh al-Ghazali yang memberikan penekanan pada jiwa, qalb dan nafs. Al-Ghazali mengibaratkan hati manusia itu bagaikan cermin (mi’yar) yang dapat memantulkan cahaya. Apabila hati bersih dari noda dosa dan hawa nafsu maka ia akan memantulkan cahaya hakikat yang terlukis pada hari itu.


Maka Insan Kamil itu adalah orang yang dapat mengawasi hatinya dari segala bentuk kemaksiatan. Disini jelas Al-Ghazali mementingkan soal akhlaq dan kejiwaan. Bagi Abdurrauf paham insan kamil ini dikombinasikan dengan paham martabat tujuh yang telah ditulis oleh Syeikh Abdullah al-Burhanpuri dalam kitab Tuhfah al-mursalah ila ruhin Nabi buku ini dikenal luas dalam tariqat Syattariyah, termasuk dalam kitab manuskrip yang ditulis tangan oleh Syeikh Burhanuddin Ulakan pada abad ke 17 dulunya.


Ketiga, Jalan kepada Tuhan (Tariqat). Kecenderungan rekonsiliasi syariat dan tasawuf dalam pemikiran al-Singkili sangat kentara sekali ketika ia menjelaskan pemanduan tauhid dan dzikir. “Tauhid itu memiliki empat martabat yaitu tauhidul uluhiyah, tauhidus sifat dan tauhid Zat dan Tauhid Afa’al. Segala martabat itu terhimpun dalam kalimah Laa ilaha illa Allah oleh karena itu kita hendaklah memesrakan diri dengan Laa ilaha illa Allah.


Begitu juga halnya dengan dzikir. Dzikir diperlukan sebagai jalan untuk menuntun ituisi (kasyf) guna bertemu dengan Tuhan. Dzikir itu dimaksudkan untuk mendapatkan al-mawat al-ikhtiyari (kematian sukarela) atau disebut juga al-mawt al-ma’nawie (kematian ideasional) yang merupakan lawan dari al-mawt al tabi’ie (kematian alamiah). Ma’rifat yang diperoleh seseorang tidak lah boleh menafikan jalan syari’at, seperti dikemukakannya dalam syair ma’rifat yang naskahnya disalin di Bukit Tinggi pada tahun 1895, ia melukiskan:


Sebiji kelapa ibarat sana,
Lafaznya empat satu makna,
Disitu banyak orang terkena
Sebab pendapat kurang sempurna
Kulitnya ibarat syari’at
Tempurungnya ibarat Tariqat
Isinya ibarat hakikat
Minyaknya itu ibarat ma’rifat


Penekanan pada dzikir ini untuk mendapat ma’rifat ini diulas panjang lebar dalam kitabnya Umdat al-Muhtajin. Syeikh Abdurrauf menuliskan syarat-syarat yang mesti dilalui sebelum masuk dzikir agar ma’rifah segera didapatkan antara lain: 1. Sebelum zikir taubat dari kemaksiatan. 2. Mandi dan berwudhu. 3. Menggunakan pakaian bersih dan harum-haruman. 4. Membutuhkan haruman pad tempat dzikir. 5. Memilih tempat gelap untuk dzikir. 6. Bersila dan menghadap kiblat. 7. Meletakkan kedua telapak tangan diatas dua paha. 8. Memejamkan mata dalam zikir. 9. Merupakan wajah Syeikh (Rabitah) dalam zikir minta bantuan Syeikh dengan hati mulia. 10. Mengitikadkan minta tolong pada nabi Muhammad. 11. Selalu menatapkan hati kepada Allah. 12. Ikhlas menghadap Allah semata-mata. 13. Menyebut laa ilaaha ila Allah dengan takzim dengan menarik kepala dari lambung kiri dibawa ke kanan tempatnya hati. 14. Menghadirkan makna zikir. La ma’buda, Ia mathluba dan ia maujuda illa Allah (yang disembah yang dicari dan yang maujud ada) hanyalah Allah. 15. Menafikan selain Allah (Fana ‘alla Allah). 16. Selalu bermujahadah dan biriyadhah (sungguh-sungguh dalam ibadah).


Kitab Umdah al-Muhtajin yang dikutip di atas merupakan salah satu sumber dari manusiaskrip Syeikh Burhanuddin dan memang dalam tradisi intelektual yang dikembangkan muridnya di daerah Sumatera Barat sampai saat ini sama dengan apa yang di kutip dalam karya Abdurrauf Singkel, nampak sekali pengaruhnya pada pemikiran yang berkembang di lingkungan murid-murid dan pengikut Syeikh Burhanuddin. Ulama-ulama tariqat Syattariyah yang bersumber atau mempunyai silsilah dengan Syeikh Burhanuddin paham keagamaan mereka pada umumnya dapat disimpulkan Ketuhanan. Insan Kamil dan tariqat.


Karangan-Karangannya


Abdurrauf Singkel merupakan sosok pemikir dan ulama terkemuka, ia telah melahirkan karya-karya sastra yang merupakan kekayaan intelektual muslim Indonesia yang berharga. Karya-karya sastra yang berbentuk suluk dari para pemikir dan ulama Islam terdahulu sampai saat ini, naskah aslinya yang berupa manuskrip atau tulisan tangan asli masih bisa dilihat pada perpustakaan-perpustakaan perguruan tinggi di negeri Belanda. Di perpustakaan-perpustakaan tersebut seseorang akan dapat menemukan dan mengkaji berbagai pemikiran yang tersimpan dalam koleksi karya-karya pemikir dan ulama Islam nusantara zaman dahulu. Tulisan tersebut ada yang tertulis ada yang tertulis dalam huruf jawa. Arab Melayu atau bahasa Arab.


Abdurrauf memiliki sekitar 21 karya tertulis yang terdiri dari 1 kitab tafsir, 2 kitab hadits, 3 kitab fiqih dan kitab-kitab tasawuf. Kitab tafsirnya yang berjudul Turujuman al-Mustafid (Terjemahan pemberi faedah) merupakan kitab tafsir pertama yang dihasilkan di Indonesia yang berbahasa Melayu. Sedangkan kitab fiqih yang ditulisnya atas permintaan dari Sultanah Safiatuddin yang memuat tentang fiqih mazhab Syafi’i sebagai panduan bagi para kadi, ia menulis Miraat at-Tullab fi Tashil Marifatul Ahkam as-Syariyyah li Malik al-Wahab (cermin bagi Penuntut ilmu fiqih, untuk memudahkan mengenal hukum syarak Allah), buku ini merupakan buku karangannya yang terkenal yang disadurnya dari kitab Fathul Wahhab. Dalam bidang tafsir ia menulis Turujuman al-Mustafid, tafsir pertama dalam berbahasa Melayu. Dalam bidang tasawuf ia menulis Bayan al-Tajali (keterangan tantang Tajali), Kifayatul Muhtajin (Pencukup para pengemban Hayat). Daqaiq al-Huruf (Detail-detail huruf) dan Umdah al-Muhatajin (Tiang orang-orang yang memerlukan). Buku terakhir ini merupakan karya Abdurrauf yang terpenting. Buku ini terdiri dari tujuh bab, yang memuat tentang zikir, sifat-sifat Allah dan Rasulnya dan asal usul ajaranmistik dalam Islam. Tiga kitab terakhir menjadi rujukan utama dalam kajian tariqat Syattariyah yang disadur oleh Syeikh Burhanuddin Ulakan kemudian diwariskan secara turun-temurun sampai sekarang masih dalam bentuk manuskrip.