Friday, May 1, 2015

Trilogi Kyai-Kyai Ageng Khalidiyyah: Kyai Ageng Haji Ulin Nuha Arwani

Jika anda bertanya pesantren terdepan yang mencetak para penghafal Alqur’an dengan kualitas terbaik maka salah satu jawabannya adalah Pon-Pes Yanbu’ul Qur’an Kudus. Pesantren Alqur’an rintisan Kyai Agung Mbah Arwani Amin Said ini dikenal sebagai pesantren Alqur’an terbaik di Indonesia. Dan sekarang yang memimpin adalah beliau Si Mbah Kyai Ulin , putra pertama Mbah Arwani.


Mbah Arwani yang merupakan Mursyid Tariqah Khalidiyyah yang mempunyai Khanaqah atau pondok Tareqah di Dusun Kwanaran ini pun menitiskan kekhilafahan tareqahnya kepada Mbah Ulin . Jadi sebagaimana abahnya, Kyai Ulin juga memimpin Pondok Takhfidh sekaligus menjadi Murabbiy Tariqh di Induk Kwanaran Kudus. Dikatakan induk, karena cabang-cabang pondok Tareqah Kwanaran sudah mencapai ratusan (mungkin) tersebar di sepanjang Pantura Jawa.


Perawakan Mbah Ulin yang gagah, ganteng dan rapi selalu menyenangkan jika dipandang . Tetapi tutur kata halus beliau lebih menyenangkan lagi di dengarkan. Kepada siapapun beliau selalu memakai bahasa kromo inggil (jawa halus) . Bentuk penghormatan beliau kepada siapa saja tanpa memandang status serta umur bersangkutan. Begitulah salah satu bentuk ketawadhu’an.


Beliau anak Kyai besar. Anak Waliyullah yang oleh Mbah Hamid Pasuruan di beri julukan Mbah Arwani Wali Kudus . Meskipun seorang anak tokoh besar, Mbah Ulin saat masih mondok di Pondok Asuhan Kyai Wali Muhammadun Pondowan Pati Jawa Tengah, beliau masak ya masak sendiri. Giliran menyapu halaman beliau yang menyapu sendiri.


Paman penulis, Kyai Mansur yang kebetulan teman satu kamarnya sering kali saat melihat Gus Ulin (begitu biasanya beliau dipanggil, bahkan sampai sekarang saat beliau sudah beranjak sepuh) memegang sapu lidi, Kyai mansur mencoba memintanya : ” Gus, biar saya saja yang menyapu untuk panjenengan.” Kata Paman Saya. Mbah Ulin selalu menolak dan dengan halus mengatakan terima kasih saja.


Ketawadlu’an ini yang merupakan ciri khusus beliau. Hanya saja, karena beliau itu di takdirkan Allah menjadi seorang yang kaya raya. Punya mobil mewah serta pakaian beliau selalu tampak rapi dan wangi , kadang kala membuat orang salah menilai.


Gus Lukman al-Hakim putra Kyai sepuh Jekulo Kudus pernah cerita. Salah seorang teman disaat melihat keadaan diri Mbah Ulin yang seperti itu dia berkata : ” Kyai Tareqah koq kaya raya. Bajunya bagus-bagus dan mobilnya mewah . Tidak pantas ya ? Mestinya Kyai Tareqah itu harus khumul , tidak suka bermewah-mewah.”


Nah, selang seminggunya teman itu sowan kepada Habib Anis bin Alawiy Al Habasyi Shohib Gurawan Solo. Gus Lukman memang mulazamah majlis Rauhah al Arif Billah Habib Anis. Pada kesempatan itu, saat temen itu baru saja duduk, tiba-tiba Habib datang menghampiri dia dan bertanya : ” Antum dari mana ? ” Tanya Habib Anis.


” Dari Kudus, Habib ” Jawabnya.
” Alhamdulillah, Kudus itu ada seorang Kyai yang sebenar-benarnya Kyai. Namanya Kyai Ulin Nuha. Antum kalau ada perlu apa soal keagamaan datang kepada Kyai Ulin Nuha ya ? ” Tutur Habib Anis. Temen itu langsung teringat keingkaran hatinya kepada Kyai Ulin dan sontak teguran Habib Anis itu (yang merupakan Kasf agung beliau) membuatnya jatuh lemas dan menangis menyesali diri. Dia baru sadar seseorang tidak boleh menilai maqamat orang lain dari penampilan lahiriyahnya saja. Karena itu adalah Sirr , dan sirr tempatnya ada di ‘dalam ‘. Tiada bisa melihat kecuali ahlinya. Laa ya’riful jauhar illal Jauhariy. Tiada mengerti karat derajat mutiara kecuali Tukang Mutiara.


Tetapi penulis juga memaknai persaksian Habib Anis tentang Kekiyaian yang sebenarnya dari Mbah Ulin adalah salah satu bukti ketulusan serta keikhlasan Kyai Ulin dalam menjalani hidupnya. Penulis tahu persis karena penulis -alhamdulillah- arbainiyyah penulis dalam bimbingan beliau . Dalam banyak kesempatan , dihadapan ratusan murid – murid Tareqah pun, saat ada yang bertanya tentang satu hukum agama atau masalah tareqah kepada beliau dan tampaknya beliau benar-benar belum mengerti jawabannya, maka tanpa malu beliau akan menjawab : ” Kulo dereng mangertos jawabanipun. Insyaallah benjang menawi sampun pikantuk jawaban panjenengan kawula paringi pirsa, saya belum tahu jawabannya . Insyaallah besok kalau saya sudah ketemu jawabannya anda akan saya beri tahu .”


Masyallah, seorang mursyid, seorang Kyai besar dihadapan banyak murid tanpa malu mengatakan Laa Adriy, AKU TIDAK TAHU. Penulis ingin bertanya kepada anda, sosok ahli ikhlas semacam beliau ini di zaman sekarang masih ada apa tidak ?


Apalagi kyai ataupun para ustadz televisi . Tidak ada yg tidak tahu bagi mereka. Semua pertanyaan pasti di jawab. Bener salah belakangan. Penulis menjadi memahami makna Habib Anis tentang SEBENAR-BENARNYA KYAI ini. Saya teringat cerita sejenis yang hampir ribuan tahun lampau sudah dianggap langka. Cerita tentang Imam Malik ra.


Haitsam bin Jumail berkata : ” Aku menyaksikan Imam Malik yg di tanya 48 pertanyaan dan dia menjawab untuk 33 pertanyaan tersebut dengan jawaban AKU TIDAK TAHU ..”


Imam Malik sendiri berkata : ” Sangat penting seorang yang Alim mewariskan kepada para murid dan rekan di sekelilingnya ucapan LAA ADRIY, Aku Tidak Tahu Jawabannya, sampai akhirnya kebiasaan itu menjadi pokok dalam genggaman mereka, sehingga jika ada yang bertanya dengan soal yang tidak diketahui jawabannya maka mereka akan sigap menjawab Aku Tidak Tahu ”


Dalam bentuk seperti ini saya memandang Kyai Ageng Hajji Ulin Nuha beberapa tingkat telah mengalahkan Kyai-kyai serta mursyid-mursyid yang lain.


Semoga Allah memanjangkan umur beliau dan para Kyai Ageng, para Mursyid yang lain. Tetap dalam kesehatan dan keselamatan sehingga kami semua selalu mendapat limpahan keberkahan mereka semua , Amin.


Lahu Al-Faatihah


Tamat


Penulis : Ustadz Muhajir Madad Salim