Buyut Syaikhul Islam si Mbah Muhammad Hadi Giri Kusumo ini relatif masih muda. Tetapi trah biru yg menitis dari Guru Besar Tareqah Kholidiyyah menjadikannya dikaruniai Allah keistimewaan semenjak usia mudanya . Setiap malam jum’at tidak kurang 5000 murid selalu datang ke ‘Padepokan’ beliau di Bukit Giri Kusumo untuk bersama-sama membaca Maulid Ad Diba’. Tua-muda, lelaki-perempuan . Yang Khos serta yang awam setiap minggunya selalu menunggu setiap patah kata demi kata yg keluar dari mulut beliau.
Penulis melihat fenomena beliau sangat mirip dengan keadaan Jama’ah Sema’an Alqur’an nya Gus Miek dahulu. Yang ribuan orang sampai rela sehari semalam untuk menunggu Gus Miek berkata apa. Dawuh Apa, bernasehat apa. Kyai Munif juga demikian kurang lebihnya. Kadang-kadang dalam majelis malam Jum’at yang mereka sebut sebagai majelis Jamuna (Jama’ah Muji Nabi) itu Mbah munif malah hanya banyak menangis saja tidak mampu berkata-kata. Para jama’ah yang hadir pun turut pula banyak yg ikut meneteskan air mata. Dan setahu saya , Mbah Munif sangat terpengaruh secara Rukhaniyyah dengan Al Habib Ahmad Al Athas Shohib Pekalongan serta Habib Kuncung Al Haddad Kalibata, Jakarta.
Kyai Zainal Arifin Welahan cerita kepada penulis, dulu waktu masih muda dia jagongan sama Mbah Munif Girikusumo yang saat itu juga masih muda. Beliau berdua ngobrol ngalor ngidul tentang zikir. Kata mbah munif :
“Zikir ismu dzat itu bikin panas dalam tubuh.” Kata si Mbah munif sambil meletakkan sebatang korek api diatas Air mineral gelas.
Beliau terus bicara panjang lebar tentang zikir. Kira kira seperempat jam kemudian beliau menutup pembicaraannya sambil menunjuk ke air mineral gelas didepannya:
“Ini lho,kalo zikir itu bisa membakar dosa sampek habis..Itu lihat..!”
Kyai Zainal Arifin pun melihat air mineral di depannya . Ternyata airnya hilang entah kemana sementara korek api yang diletakkan diatasnya menjadi gosong seperti sudah habis terbakar. Anehnya, pentol korek itu tidak pernah di sulutkan, serta botol air mineral gelas itu masih utuh tidak bocor. Lalu lewat mana air itu menguap lenyap? Pikir Kyai Zein.
Kyai Abdul Haq salah seorang Guru Tareqah Khalidiyyah bercerita . Suatu hari dia dipanggil sowan Mbah Munif . Sesampainya di Girikusumo Kyai Abdul Haq hanya diberi Mbah Munif uang receh sebesar 500 perak . Tetapi kata Mbah Munif : ” Kyai.. Ini ada uang . Buat berangkat haji ”
500 rupiah buat berangkat haji ya aneh . Malah sebagihan orang berpikir itu perbuatan seorang yang kenthir . Sesampainya di rumah Kyai Abdul Haq hanya menimang-nimang uang receh tersebut sambil berkata : ” Yi Munif itu maksudnya apa? Aku itu tidak punya uang , dikasih mangatus rupiyah koq disuruh buat Hajji. Gimana? ”
Baru saja beberapa menit datang tamu . Seorang murid Tareqah . Tanpa ba bi bu matur kepada Kyai Abdul Haq bahwa Kyai kalau mau sat itu juga di daftarkan Hajji atas tanggungan biaya si Murid !
Subhanallah… Kyai Abdul Haq hanya bisa mrebes mili air matanya saja.
Penulis dulu ingat mirip-mirip demikian – memberi uang receh sebagai jimat – sering dilakukan seorang Kyai Majedub dari Sarang Rembang yaitu almarhum Kyai Ahmad . Penulis pernah kebagian beberapa rupiah dari beliau . Sayangnya sekarang tidak tahu lagi rimbanya uang jimat itu. Kalau sekarang anda sowan ke Solo ketempat Habib Syeikh mungkin anda juga akan kebagihan uang receh jimatan. Kata Habib Syeikh biasanya : ” Duit rongewu dadi rong melyarr .. Uang Dua ribu jadi uang dua milyar .” Semacam do’a beliau untuk mudah rejeki barangkali.
Kyai Munif ini saking tajamnya mata bathin beliau sampai-sampai keadaan para muhibbin beliau , para murid beliau di tempat yang jauh pun beliau waskita dan mengetahui . Sudah terlalu sering Ibu mertua penulis yang kebetulan masih termasuk adik Kyai Munif ini bercerita kepada penulis, kalau apa saja yg terjadi di dalam rumah mertua penulis, Mbah Munif dari jauh sudah mengetahui detailnya. Sampai-sampai jika Ibu mertua penulis sowan pun, sebelum cerita ke Mbah Munif , eh malah Mbah munif yang duluan menceritakannya. Biasanya Ibu mertua saya tinggal klepek-klepek saja.
Sampai saat ini Mbah Munif Alhamdulillah masih dalam keadaan sehat di Kediaman beliau di Girikusumo dan Ketua Syuriyah PKB Cabang Demak ini terhitung menjadi salah satu rujukan pangestu para pejabat negara dan para pengusaha-pengusaha yang mereka pada berebutan mencari berkah dan untung dengan restu serta do’a beliau . Hafidhohul Loohu Ta’alaa , Wa matta anal lahuna bihayaatimih , Amin .
Lahu Al-Faatihah
Bersambung...
Penulis : Ustadz Muhajir Madad Salim