Wednesday, June 3, 2015

KH. M. Munawwir Musthofa Al-Mursyid Tegalarum Nganjuk

KH. M. Munawwir  Musthofa Al- Mursyid Tegalarum Nganjuk di lahirkan sekitar tahun 1911 M. Beliau dilahirkan dikalangan keluarga yang sangat religius. Beliau putra KH. Imam Musthofa Al-Mursyid dengan Nyai  Mu’inah Binti KH Minhaj Al-Mursyid  (w 1914 M) yang mana KH Imam Musthofa adalah seorang ulama’ dan juga pendiri pondok Al–Musthofa Tegalarum, Pelem, Kertosono yang juga termasuk Mursyid Thoriqoh Naqsyabandiyah Kholidiyah. Jika di runtut, beliau (KH Munawwir) masih keturunan Kyai Ageng M. Besari Tegalsari Ponorogo, kalau diruntut terus sampai Rosulullah S A W.


Urutan nasabnya sebagai berikut: KH Munawwir bin KH Imam Musthofa bin Kyai Zakariya Bin Kyai Askirom bin Kyai Kholifah bin Kyai Ageng M.Besari Tegalsari Ponorogo bin Kyai Ageng Anom Besari( RajaNeda kusuma/KyaiAgeng Grabahan) bin Syekh Abdullah Mursyad Setono Landehan Kediri bin Sayyid Zainal Arifin (Kyai Ageng Jenggolo Kediri) bin Sayyid Ahmad (Syekh Dinar Kediri) bin Sayyid Musthofa bin Sayyid Ali bin Sayyid Jamaluddin Husein Al Akbar bin Sayyid Ahmad Syah Jalal bin Sayyid Abdullah Khon bin Sayyid Amir Abdul Malik bin Sayyid Alawi bin Sayyid Muhammad Shohib Mirbat bin Sayyid Kholi’ Qosam bin Sayyid Alawi Muhammad bin Sayyid Muhammad bin Sayyid Alawi bin Sayyid Ubaidillah bin Sayyid Ahmad Al Muhajir Ilallaah bin Sayyid Isa Arrumi bin Sayyid Muhammad An Naqib bin Sayyid Ali Al Uraidi bin Sayyid Ja’far Shodiq bin Sayyid Muhammad Al Baqir bin Sayyid Ali Zainal Abidin bin Sayyid Husein bin Ali bin Sayyidah Fatimah Azzahro’ binti Rosulullah Muhammad SAW.


Sedangkan dari jalur ibu adalah: KH Munawwir bin Nyai  Mu’inah binti KH Minhaj Kebonsari Tugu Trenggalek seorang Mursyid Thoriqoh Naqsyabandiyah Kholidiyah.


KH. Munawwir adalah putra ke-4 dari KH.  Imam Musthofa dengan istri pertama yaitu Nyai Mu’inah binti KH. Minhaj. KH. Imam Musthofa selain beristrikan Nyai Mu’inah beliau juga mempunyai 3 istri yaitu Nyai Adzilah, Nyai Ukasah, Nyai Legiyem, keluarga KH Munawwir menyebar ke belahan kota di Jawa Timur sebagian Jawa Tengah dan Jawa Barat diantaranya di Madiun, Banyuwangi, Jember, Wonogiri, Blitar, Jombang , Nganjuk, Tulungagung, Mojokerto, Jakarta, Sidoarjo, Kediri, Ngawi, dan lain-lain yang kesemuanya rata-rata dan sebagian besar mempunyai pondok pesantren.

Dikarenakan keterbatasan informasi, maka tidak di ketahui secara pasti kapan beliau mulai mondok dan mencari ilmu. Menurut informasi yang kami dapat, beliau mulai pendidikan agama dari ayah beliau sendiri, yaitu KH. Imam Musthofa Al-Mursyid (w 1930 M) dan juga kepada kakak ipar beliau yaitu KH. Amnan Al-Mursyid (w 1948 M)  Pondok Al-Amnaniah Talok, Ngawi  dan juga KH. Romli Tamim Al-Mursyid (1888 -1958 M ) Pondok Darul Ulum Rejoso jombang dan juga kepada KH. R. Izzuddin Al-Mursyid (w 1979 M) Pondok Al-Mujadadiah Taman Kota Madiun dan juga kepada KH. R. Munawwir Al-Hafidz (1872 -1942 M) Pondok Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, bahkan beliau meghafalkan Al-Qur’an di hadapan KH. R.  Munawwir Krapyak.


KH. Munawwir Musthofa dibai’at Thoriqoh Naqsyabandiyah Kholidiyah dan Qodiriyah Wan-Naqsyabandiyah oleh ayah beliau sendiri. Belum sampai khatam, ayah beliau ( KH Imam Musthofa) wafat, lalu tarbiah diteruskan sampai khatam oleh kakak ipar beliau KH. Amnan Talok Ngawi. Beliau juga bai’at Thoriqoh Qodiriyah Wan Naqsyabandiyah kepada  KH. R. Izzuddin Taman Kota, Madiun sekaligus dikukuhkan juga oleh KH. R. Izzuddin Taman  Kota Madiun. Dan juga beliau belajar Thoriqoh kepada KH. Romli Tamim Rejoso Jombang, beliau belajar dan ba’iat Thoriqoh tersebut sampai beliau menjadi mursyid yang Masyhur dan ‘Alim dan Wara’. Sehingga banyak kyai atau ulama yang menjadi murid dan bai’at Thoriqoh kepada Mbah Yai Munawwir Musthofa.


Pernikahan beliau berlangsung setelah beliau mondok di Krapyak, seminggu setelah ayah beliau (KH Imam Musthofa) wafat. Kemudian setelah pernikahan beliau, jarak satu minggu kakak beliau, yaitu Kyai Marzuki juga wafat dalam keadaan masih bujang. Diperkirakan pernikahan Mbah Yai Munawwir Musthofa pada tahun 1930-an, karena wafat KH Imam Musthofa pada tahun 1930 M.


Mbah Yai Munawwir Musthofa menikah dengan seorang gadis yang bernama Siti Aminah Binti Kyai Ghozali dari Sukonilo, Patianrowo, Nganjuk. Bersama Nyai Siti Aminah, beliau tinggal di Sukonilo Patianrowo Nganjuk, dan diperkirakan beliau pulang ke Tegalarum pada tahun 1949 M. Beserta keluarga, beliau menetap di Tegalarum sampai wafat. Beliau mukim beserta keluarga di ndalem yang ditempati KH Imam Musthofa yang sekarang ditempati Nyai Munawwaroh sekeluarga.


Mulai kecil beliau termasuk tidak sama dengan teman-teman sebayanya (Khowariqul ‘Adat), tulisan beliau jelek tapi bisa dibaca, beliau juga sangat hebat Shilaturrohimnya dan selalu menjaga sholat dengan berjamaah. Beliau adalah seorang yang tawadhu’ ,sabar, pemurah serta gampangan. Terbukti melalui penuturan KH. Imam Hambali, Putra KH Munawwir, selama KH. Imam Hambali 60 tahun bersama KH. Munawwir, marah hanya sekali ketika dua kakak KH. Imam Hambali bertengkar sewaktu kecil, sehingga KH Munawwir menyuruh mereka akur lagi.


KH. Munawwir adalah sosok yang sederhana, tercermin dalam pengalaman yang dialami Kyai Muhsin ,menantu beliau, yang pernah didawuhi, kalau mengadakan acara 1 atau 2 takar yang penting miliknya sendiri. Masih dari penuturan Kyai Muhsin, Mbah Yai Munawwir Musthofa  berpesan, kalau haul atau Selasa Pahing-an, para Santri diperintahkan ke Tegalarum dengan mengajak para ikhwannya (temannya).


Ketika Agresi Militer Belanda 1948 M, beliau ikut berperang dan terluka tidak ringan seperti halnya orang pada umumnya meskipun sebenarnya beliau bukan orang biasa. Beliau KH Munawwir adalah sosok pribadi yang hati-hati dalam masalah tuntunan syara’, sabar, murah senyum. Tercermin diantaranya selalu mandi dulu ketika akan melaksanakan sholat jama’ah. Beliau juga terkenal dengan do’anya yang mustajabah, meskipun terkadang do’anya hanya sederhana, malah yang sering hanya bacaan Surat Al-Faatihah dan do’a Jawa.


Beliau juga selalu berpenampilan yang praktis ketika menghadiri suatu acara maupun dalam kesehariannya. Pernah dalam acara Mu’tamar Thoriqoh, beliau hadir dengan memakai surban dan bercelana panjang, tidak memakai jubah. Beliau selalu mempraktekkan akhlaq tasawuf dalam sendi kehidupan beliau, termasuk mempraktekkan khumul (tidak mau terkenal), sebagai contohnya, ketika menghadiri acara besar / mu’tamar atau lainnya, beliau memilih tempat dibelakang meskipun sebenarnya beliau adalah seorang mursyid agung. Beliau juga Hafidz Al-Quran, tapi yang ditonjolkan adalah tasawufnya. Beliau menerapkan dan menekankan Fiqh Bathin (Dzikir), aktif dalam kegiatan Thoriqoh dan masuk dalam pegurusan pusat Thoriqoh Mu’tabaroh. Selain itu, beliau juga tidak ikut dalam ranah politik  / parpol meskipun tidak semua politik itu tidak dibenarkan.


Sebagian dari murid Mbah Yai Munawwir dan yang Bai’at Thoriqoh kepada Mbah Yai Munawwir Musthofa, yaitu :




  1. KH. Bahruddin kalam (w 1989 M) Pengasuh Pondok Daruttaqwa  Pasuruan

  2. KH. Hasyim Pengasuh Pondok Al-Istiqomah  Dlanggu Mojokerto

  3. KH. A.Shodiq Pengasuh Pondok Al-Munawwir  Pandansari Tulungagung

  4. KH. Sholih Bahruddin Pengasuh Pondok Ngalah Purwosari Pasuruan

  5. KH. Jamaludin Pengasuh Pondok Al-Munawwir  Sumberpandan Bangsal Mojokerto

  6. KH. Askirom bin Amnan Ngawi

  7. KH. Amanu Jember

  8. KH. Masduqi-Trenggalek

  9. KH. Makinuddin-Banyuwangi

  10. KH. Muslim-BeJi Tulungagung

  11. KH. Dimyati(alm)-Gayaman Mojokerto

  12. KH. Abdul Majid-Porong Sidoarjo

  13. KH. Rifa’i Brangkal-Mojokerto

  14. KH. Qomari Pengasuh Pondok Al-Qomar Patianrowo Nganjuk

  15. KH. Sholih-Glatik mojokerto

  16. KH. Mashudi-peterongan Mojokerto

  17. KH. Khotib-Ngawi

  18. KH. Ma’sum-Ngawi

  19. KH. Shoheh-Nganjuk

  20. KH. Aliman-Nganjuk

  21. KH. Rohmat-Nganjuk

  22. KH. Mashudi-jember

  23. KH. Usman-Jember

  24. KH. Nur ali-Jember

  25. KH. Abu qorib-Temanggung jateng

  26. KH. Nur Kholis-Kendal jateng

  27. KH. Syahid-pati jateng

  28. KH. Rosyidin-sukorejo Kendal jateng

  29. KH. Musthofa-Jakarta

  30. KH. Toha-(luar jawa)

  31. KH. Ilham-(luar jawa)

  32. KH. Musthofa(alm)-(luar jawa)

  33. KH. Muslim-( luar jawa)

  34. KH. Iman Muayyad-(luar jawa)

  35. KH. Syahid(alm)-(luar jawa)

  36. KH. Ihya’-jember

  37. KH. Abdurrohman_jember

  38. KH. Imam Syafi’I Munawwir (Putra KH. Munawwir)

  39. KH. Abdullah Hanafi Munawwir (Putra KH. Munawwir)

  40. KH. Abdul Malik Munawwir (Putra KH. Munawwir)

  41. KH. Imam Hambali Munawwir (Putra KH Munawwir)

  42. KH. Fathulloh Munawwir (Putra KH Munawwir)

  43. Gus Hasyim Hambali (Cucu KH Munawwir dan Pengasuh Pondok Munzalan    Mubarokan Wonogiri Jawa Tengah)

  44. Gus A. Abdul Haq (Cucu KH Munawwir)

  45. Kyai Daroji kerjo karangan Trenggalek

  46. Gus Zuhal Ma’ruf (cucu KH Munawwir)

  47. Gus Mu’adz Pengasuh Pondok  Kedungbengkah kedungsuko sukomoro nganjuk

  48. KH. Nur Musthofa Pengasuh Pondok Ngasor Gumukmas Jember

  49. KH. Mubasyir Mundir /Mbah Mundir (1919-1989 M) Pendiri Pondok Ma’unah Sari, Bandar kidul Kediri, meskipun hanya sebentar, bekas kamar beliau pun diabadikan hingga sekarang, tepatnya di depan masjid Al-Musthofa bagian utara.


Kemungkinan besar Pondok Pesantren Al-Musthofa didirikan pada tahun 1901M, dikarenakan diatas mihrab Masjid Al-Musthofa bertuliskan tahun 1901M, selain itu berdirinya Pondok Pesantren Al-Musthofa ditandai dengan berdirinya Masjid lebih dahulu yang didirikan oleh Mbah Yai Imam Musthofa Al-Mursyid (wafat 1930 M). Tidak diketahui dengan jelas kapan tanggal dan tahun lahirnya Mbah Yai Imam  Musthofa, kemungkinan seangkatan dengan Mbah Yai Hasyim Asyari Tebuireng / Mbah Yai Abdul Karim Lirboyo.


Setelah Membangun Masjid Al-Musthofa, Mbah Yai Imam Musthofa pun Membangun Pondok dan bangunan – bangunan penunjang lainnya, kemudian datanglah para santri untuk belajar kepada beliau serta suluk dihadapan beliau. Setelah 29 tahun lamanya (1901-1930 M)  Mbah Yai Imam Musthofa mengasuh Pondok Al-Musthofa, akhirnya beliau wafat pada tahun 1930 M.


Selanjutnya Pondok Al-Musthofa diteruskan kepengasuhannya dan kemursyidannya oleh putra ke-4 dan Kholifah Mbah Yai Imam Musthofa, yaitu KH.Munawwir Al-Mursyid, meski sebenarnya KH.Munawwir masih hidup berkeluarga dengan mertua beliau di Sukonilo Patianrowo. Mbah yai Munawwir resmi pindah Ke Tegalarum 1949 M, dikarenakan keterbatasan informasi dan sumber, kami belum mengetahui bagaimana keadaan pondok Al-Musthofa antara tahun 1930-1949 M sebelum kepulangan Mbah Yai Munawwir ke Tegalarum.


Singkat cerita, setelah KH Munawwir pulang dan menetap di Tegalarum, santri dan orang suluk semakin banyak, maka pada akhir tahun 60-an sampai akhir 90-an dibantu oleh putra pertama Mbah Yai Munawwir yang ahli di bidang syari’at, yaitu KH. Imam Syafi’i Munawwir. Pondok Al-musthofa pun semakin disegani dan banyak kyai / ulama yang nyantri dan bai’at Thoriqoh di pondok Al- Musthofa.


Meskipun sebenarnya KH. Munawwir sendiri juga ahli syari’at, tapi yang ditonjolkan adalah kesufiannya/ tasawufnya. Jadi, KH. Munawwir mengurus thoriqohnya, sedangkan KH. Imam Syafi’I (w 1998 M) mengurus syariat dhohirnya, sebuah kesatuan yg luar biasa. Meskipun tidak menafikan putra-putra KH. Munawwir yg lain, karena putra-putra dan menantu beliau juga bersama-sama berkhidmah di pondok Al-Musthofa  Tegalarum. KH. Imam syafi’i membangun musholla di depan ndalem dan asrama khusus santri putri di depan Ndalem dengan nama pondok Sumur Kuning Tegal Arum, letaknya sebelah timur Masjid Al- musthofa.


Tahun silih berganti, akhirnya KH. Imam syafi’i wafat terlebih dahulu pada tahun 1998 M yang didahului oleh ibu beliau ( istri KH. Munawwir ) yaitu Mbah Nyai Siti Aminah yang wafat tahun 1995 M dan diteruskan wafatnya menantu beliau yaitu KH Khamzani yang wafat tahun 1999 M yang diteruskan 2 tahun selanjutnya, disusul  wafatnya Almarhum KH. Munawwir tepat pada tahun 2001 M yang berdampak kurang baik bagi Pondok Al-Musthofa bertepatan dengan Milad pondok Al-Musthofa ke 100 tahun pondok Al-Musthofa (1901-2001 M). Selanjutnya kepengasuhan dan kemursyidan pondok Al-musthofa diteruskan oleh putra beliau yang ke 4, yaitu KH. Imam Hambali Munawwir Al-mursyid (lahir tahun 1943 M) sampai sekarang. Renofasi bangunan-bangunan yang sudah Rapuh dan rusak semakin ditingkatkan, juga perbaikan masjid, maqbaroh dan lokal-lokal pondok, jadi dapat disimpulkan kemursyidan dan kepengasuhan pondok Al-musthofa dari tahun 1901-2014 M adalah:




  1. Almukarrom Romo KH.Imam Musthofa Al-Mursyid (1901-1930 M)

  2. Almukarrom Romo KH. Munawwir Musthofa Al-Mursyid (1930-2001 M)

  3. Almukarrom Romo KH. Imam Hambali Munawir Al-Mursyid (2001 M - sekarang)


Meskipun dari bentuk fisik pondok Al-Musthofa tidak terlalu besar dan ramai, kira-kira kurang lebih 100 pondok,  pengasuhnya adalah alumni pondok Al-Musthofa. Meskipun pondok Al-Musthofa lebih tahasus di bidang thoriqoh, adab dan tasawuf, sampai sekarang masih ada santri yang mondok meskipun tidak banyak , malah ada yang sudah 7 tahun belum pernah pulang sampai sekarang, yaitu santri asal Kendal Jawa Tengah.


KH. Munawwir sangat mumpuni dalam bidang Thoriqoh, sehingga menjadi Mursyid yang masyhur lantaran beliau telaten, sabar , tidak kaku , luwes. Selain itu, beliau juga istiqomah dalam melaksanakan tuntunan agama lebih- lebih sholat berjamaah meskipun beliau sudah menginjak usia sepuh. Ketika setiap hendak jamaah maktubah beliau mandi dulu meskipun cuaca dingin, kemudian minta di antar melalui kursi rodanya menuju masjid untuk sholat berjamaah dengan para santri dan keluarga. KH.Munawwir mengajarkan kepada santri – santri beliau melalui praktek adab dalam keseharian daripada teoritis terlebih pada Thoriqoh yang penuh dengan riyadhoh, aurod dan adab dzohiron wabatinan.


Sedangkan untuk Thoriqoh, sebenarnya beliau mempunyai dan mengamalkan beberapa Thoriqoh akan tetapi yang terkenal adalah Thoriqoh Naqsyabandiyah Kholidiyah dan Qodiriyah Wan Naqsabandiyah. Beliau mendapat suatu syarat untuk menyatukan 2 kabel besar dan kenyataannya beliau mengamalkan 2 Thoriqoh tersebut dengan bersamaan.


Adapun sanad Thoriqoh Naqsyabandiyah Kholidiyah beliau adalah : KH Munawwir (w 2001 M) dari – KH Amnan Talok Ngawi (w 1948 M) dari – KH  Imam Musthofa Tegalarum (w 1930 M) Dari – KH Minhaj Kebonsari Tugu Trenggalek (w 1914 M) dari – KH Sholeh Kutoharjo Purworejo dari – Sayyid Sulaiman Zuhdi Jabal Qubais Mekah dari-Sayyid Isma’il Burwis dari-Sayyid Afandi Qorin dari-Sayyid Abdullah Afandi Makin dari-Sayyid Maulana Kholid Al Baghdadi dari-Sayyid Abdullah Addahlawi dari-Sayyid Habibullah Syamsuddin dari-Sayyid Nur Muhammad Al Budwani dari- Sayyid Muhammad Ma’sum dari -Sayyid Ahmad Al Faruqi dari -Sayyid Muayyiduddin Muhammad Al Baqi dari -Sayyid Muhammad Al Khowajiki dari -Sayyid Darwis As Samarqondi dari -Sayyid Muhammad Zahid dari-Sayyid ‘Ubaidillah Al Ahrori dari- Sayyid Ya’qub Al Jurkhi dari- Sayyid ‘Alauddin Al ‘Atori dari-  Wali Agung Sayyid Syekh Bahauddin An-Naqsyabandi (1317 – 1391 M)dari- Sayyid Amir Kilal dari- Sayyid Muhammad Babassamasi dari – Sayyid ‘Ali Ar Romitani dari- Sayyid Mahmud Anjirfaghuni dari-Sayyid ‘Ali Ar Riwikri dari -Sayyid ‘Abdul Kholiq Al Ghujdawani dari- Sayyid Yusuf Al Hamdani dari- Sayyid Abi Ali Alfadhol dari- Sayyid Abil Hasan Al Khorqoni dari- Sayyid Ja’far Shodiq dari -Sayyid Qosim Bin Muhammad dari -Shohabat Salman Al Farisi dari -Shohabat Abu Bakar Shiddiq(w 634 M), sampai Rosulullah S a w (w 632 M) lalu Malaikat Jibril dari Allah SWT. Beliau KH Munawwir termasuk urutan sanad ke 39 dari Rosulullah SAW.


Sedangkan sanad Thoriqoh Qodiriyah Wan-Naqsyabandiyah beliau adalah : KH Munawwir (w 2001 M) dari  – KH R Izzuddin Taman Kota Madiun (w 1979 M) dari – KH Ali Sempu Secang Magelang (w 1964 M) dari – KH Umar Payaman Magelang dari – KH Zarkasyi Berjan Purworejo (1830 – 1914 M) dari – Syekh Abdul Karim Banten dari – Syekh Khotib Sambas (1802 – 1872 M) dari- Sayyid Syamsuddin dari- Sayyid Muhammad Murod dari- Sayyid ‘Abdul Fattah dari –Sayyid ‘Usman dari- Sayyid ‘Abdurrohim dari Sayyid Abu Bakar dari- Sayyid Yahya dari- Sayyid Hisamuddin dari- Sayyid Waliyyuddin dari- Sayyid Nuruddin dari- Sayyid Syarofuddin dari- Syamsuddin dari- Sayyid Muhammad Hattak dari- Sayyid ‘Abdul ‘Azis dari -  Wali Qutub  Sayyid Syekh Abdul Qodir Jaelani (1077-1166 M)  dari  -Sayyid Abi Sa’id Al Mubarok dari- Sayyid Abil Hasan ‘Ali Al Hukkari dari- Sayyid Abil Farroj At Turtusi dari- Sayyid ‘Abdul Wahid At Tamimi dari- Sayyid Abi Bakar Asy Syibali dari- Sayyid Abil Qosim Al Junaidi dari-Sayyid Sirri As Saqoti dari -Sayyid Ma’ruf Al Karkhi dari- Sayyid Abil Hasan ‘Aliyibni Musa dari Sayyid Musa Al Kadzim dari Sayyid Ja’far Shodiq dari- Sayyid Muhammad Baqir dari- Sayyid Imam Zainal ‘Abidin Sayyid Husein Bin Fathimah dari- Shohabat  Ali Bin Abi Tholib  (w 661 M) sampai Rosulullah S a w (w 632 M) lalu Malaikat Jibril dari Allah SWT.


KH Munawwir termasuk urutan sanad ke 38 dari Rosulullah SAW. Dan menurut salah satu  santri beliau, KH Munawwir juga mengamalkan Thoriqoh Syadziliyah, akan tetapi yang terkenal dan ditonjolkan adalah Thoriqoh Naqsyabandiyah Kholidiyah dan Thoriqoh Qodiriyah Wan-Naqsyabandiyah.


KH Munawwir termasuk Ulama’ yang oleh Allah diberi umur hampir 1 abad (1 abad kurang 10 tahun). Di saat sepuh, kira-kira tahun 1986 M, beliau sakit dan harus berada di kursi roda  ketika hendak berpergian kemana-mana. Beliau lebih dulu ditinggal wafat oleh menantu beliau yaitu Kyai Ma’ruf Kholil Sedan Kemlokolegi yang wafat pada tahun 1990 M, yang diteruskan oleh wafatnya istri tercinta beliau, Nyai Siti Aminah yang wafat pada tahun 1995 M yang diteruskan dengan wafatnya putra kedua beliau yaitu KH Abdullah Khanafi Munawwir Jember yang wafat pada tahun 1996 M, dan disusul putra pertama beliau KH Imam Syafi’i Munawwir Tegalarum yang wafat pada tahun 1998 M. juga disusul wafatnya menantu beliau KH Khamzani Tegalarum yang wafat pada tahun 1999 M.


Meskipun dalam keadaan sepuh dan berada di kursi roda, Mbah Yai Munawwir Musthofa tetap beraktivitas dan eksis seperti biasa sebagai Ulama’, sebagai Imam Jama’ah, sebagai Mursyid yang mendidik para murid-muridnya dan keluarganya. Beliau tetap bershilaturrohim kepada keluarga, para ulama’ dan kepada murid-murid beliau.


Mbah Yai Munawwir Musthofa wafat pada Senin Pon 28 Agustus 2001 M /1 Jumadil Akhir 1422 H dalam umur 90 tahun, dan beliau di Maqomkan di Maqom keluarga di timur Masjid Al Musthofa bersandingan dengan Maqom Nyai Siti Aminah dan beserta Ayah beliau (KH Imam Mustofa beserta 4 istrinya), juga beserta para Dzurriyah dari KH Imam Musthofa.


Lahu Al-Faatihah.


Sumber : Biografi Resmi KH  M. Munawwir  Musthofa Al- Mursyid, Ponpes Al-Musthofa Tegalarum Nganjuk